Selamat datang di sonoku.com

Gerbang OR 3 Input 1 Output Menggunakan Transistor

Rangkaian logika adalah rangkaian yang menerapkan dasar-dasar logika dalam pemakaiannya. Dasar-dasar logika adalah operasi yang menerapkan dua kondisi yaitu HIGH atau “1” dan LOW atau “0”.
Rangkaian logika secara umum menggunakan gerbang-gerbang logika yang terintegrasi dalam satu IC. Tetapi selain IC, rangkaian logika dapat dibangun dari komponen-komponen elektronika dasar seperti resistor, transistor, dioda, saklar, dan relay. Dari rangkaian logika yang menggunakan komponen-komponen tersebut, munculah istilah RTL, DTL dan RDL. Sedangkan yang menggunakan IC terdapat IC jenis TTL dan CMOS.

RTL, DTL dan RDL
RTL ( Resistor Transistor Logic ) merupakan rangkaian logika yang menggunakan komponen – komponen resistor dan transistor. DTL ( Diode Transistor Logic ) adalah rangkaian logika yang menggunakan diode dan transistor sebagai pembangunnya. Sedangkan RDL ( Resistor Diode Logic ) menggunakan resistor dan diode sebagai komponen pembangunnya.

IC TTL dan CMOS
Gerbang – gerbang logika seperti AND, OR dan NOT sudah terintregrasi dalam satu chip IC. IC ini adalah jenis TTL dan CMOS. IC TTL berkode 74xxx seperti 7400, 7404, 7432, dan lain – lain. Sedangkan IC CMOS biasanya berkode 40xx atau 45xx seperti 4000, 4011, 4511 dan sebagainya.
Gerbang – gerbang dasar logika AND, OR, dan NOT. Gerbang – gerbang lainya merupakan pengembangan dari ketiga gerbang dasar tersebut. Misalnya gerbang NAND merupakan perpaduan gerbang AND dan NOT. NAND sendiri merupakan kependekan dari NOT – AND.

Gerbang OR 3 input
Guna membentuk gerbang OR dengan 3 input dengan menggunakan IC gerbang cukup mudah, yaitu hanya cukup menggunakan IC TTL 74LS32. Memang IC ini merupakan IC gerbang OR dengan 2 input 1 output, guna membentuk 3 input perlu menggunakan 2 buah gerbang OR yang disusun seperti yang ditunjukkan pada gambar 1.
Hal ini sangat berbeda apabila dalam membuat gerbang OR dengan 3 input yang akan digunakan adalah transistor. Pada desain rangkaian ini, selain menggunakan transistor komponen lain yang diperlukan adalah resistor dan diode.

Gambar 1. Gerbang OR 3 input 1 output

Gambar 2. Rangkaian Gerbang OR 3 input 1 output dengan menggunakan Resistor, Diode dan Transistor

Gambar 3. Realisasi Rangkaian Gerbang OR 3 input 1 outputdengan menggunakan Resistor, Diode dan Transistor

Berdasarkan gambar 2 diatas, A,S,D adalah input dari gerbang OR. Prinsip kerja rangkaian ini adalah apabila input sama dengan logika ‘0’ atau low maka diode akan berfungsi sebagai saklar terbuka sedangkan apabila input sama dengan logika ‘1’ atau high diode akan berfungsi sebagai saklar tertutup. Apabila ada salah satu input sama dengan ‘1’ maka transistor akan dibias maju sehingga transistor PNP tidak akan mengalirkan arus dari emitor ke collector maka arus akan mengalir melalui R1 sehingga led akan menyala (Gambar 4).
Tapi apabila semua input sama dengan ‘0’ maka transistor PNP akan dibias reverse dari R3 sehingga arus akan mengalirkan dari emitor ke collector maka led tidak akan menyala (Gambar 7).

Gambar 4. Kondisi salah satu input sama dengan ’1’ atau high


Gambar 5. Rangkaian gerbang OR pada kondisi salah satu input sama dengan ’1’ atau high

Gambar 6. Rangkaian gerbang OR pada kondisi 2 input sama dengan ’1’ atau high

Gambar 7. Kondisi salah satu input sama dengan ’0’ atau low

Gambar 8. Rangkaian gerbang OR pada kondisi semua input sama dengan ’0’ atau low

Membuat mekanik robot mobil sederhana (bag.2)

Membuat kerangka dasar dan memasang motor DC

Hello apa kabar? Oke untuk melanjutkan rencana kita  membuat mekanik robot mobil sederhana yang terdahulu, sekarang kita mulai membuat kerangka dasar dan memasang motor DC pada rangka tersebut. Bagi anda yang langsung menemukan laman ini, saya sarankan untuk membaca dulu artikel bagian 1 disini. Tapi jika sudah, kita langsung saja lanjutkan pada bagian 2 berikut.

Membuat kerangka robot

Baik kita mulai dengan membentuk rangka dasarnya menggunakan siku aluminium yang sudah kita potong sesuai ukuran. Kemudian ikuti langkah berikutnya berikut ini.

1. Tempelkan pola no.1 pada salah satu sisi potongan siku aluminium.
2. Buat lubang untuk dudukan motor dc pada potongan aluminium sesuai dengan pola tersebut. Lakukan hal yang sama untuk potongan yang kedua. Hasilnya akan tampak seperti gambar berikut.

3. Tempelkan pola no. 4 pada PCB polos, kemudian buat lubang sesuai gambar pola tersebut.
4. Satukan kedua siku aluminium yang sudah selesai dibor dengan PCB polos tadi dengan sekrup.  Hasilnya akan tampak seperti gambar berikut.

Memodifikasi Motor DC

Motor DC yang digunakan untuk tape recorder didalamnya masih terdapat rangkaian speed controller. Sebaiknya kita lepas rangkaian ini, rangkaian ini menyebabkan kecepatan motor menjadi lambat. Untuk itu perlu kita lepas rangkaian speed controller ini.

1. Buka penutup motor pada bagian belakang menggunakan obeng kecil atau tang. Hati-hati jangan sampai merusak rangkaiannya.
2. Ambil spon hitam penutup rangkaian.
3. Dengan menggunakan solder, lepaskan rangkaian speed controller tersebut dari terminal motor.
4. Solder kabel warna merah dan hitam pada terminal motor yang sudah dilepas rangkaian speed controllernya.
5. Tutup kembali bagian belakang motor dengan penutup yang kita lepas tadi.

Memasang Motor Pada Rangka Robot

Setelah selesai memodifikasi motor, kemudian pasang motor pada rangka robot yang telah kita buat tadi. Ikuti langkah berikut.
1. Buka pulley yang menempel pada poros motor terlebih dahulu.
2. Masukkan poros motor pada lubang yang tersedia pada badan rangka dari dalam.
3. Pasangkan baut pada badan motor dan rangka dari luar, lakukan hal yang sama pada sisi rangka robot yang lain.
4. Pasang kembali pulley motor.

What you need to start building a website or blog

webbuildingThere are some things that need to be prepared if you want to build a website or blog. But, before you start to prepare it just answer this question “What is the main purpose of your website or your blog?”

Why this question is so important, it’s will make your work more focus and of course answer these next question as well. “What a blog or website looks like you will build?” , and “how to build it?”. Read More

Bermain Mikrokontroler dengan mikroPASCAL

Jika anda biasa dengan bahasa BASIC untuk pemrograman komputer, dan anda hobby untuk membuat aplikasi mikrokontroler, anda bisa gunakan BASCOM karena saya yakin anda tidak mau tidak susah-susah bermigrasi ke bahasa assembler yang agak ribet. BASCOM sendiri sebenarnya adalah compiler bahasa BASIC untuk mikrokontroler. Tapi jangan khawatir bagi anda yang terlanjur cinta dengan Delphi ataupun Pascal seperti saya, sekarang sudah tersedia compiler bahasa Pascal untuk mikrokontroler yaitu mikroPascal dari mikroElektronika. Sebenarnya mikroElektronika juga menyediakan compiler bahasa BASIC dan C untuk mikrokontroler, tapi kali ini saya coba fokuskan ke mikroPascal..oke?!! Read More

Pemfilteran Domain Spasial

Sebenarnya istilah filter mengacu pada proses melakukan penyaringan komponen frekuensi tertentu (yang sama diterima, yang tidak ditolak). Jika kita ingat kembali pelajaran tentang filter di Teknik Elektro, kita tahu bahwa filter lolos rendah (Low Pass Filter/LPF) akan meloloskan komponen yang berfrekuensi rendah, dalam image processing LPF akan menghasilkan citra Blur (lembut/halus). Lalu filter dalam pengolahan citra bentuknya seperti apa? Biasanya dalam bentuk piksel berukuran 2×2, 3×3 atau 5×5 dan seterusnya, tergantung kebutuhan, dan piksel ini biasa disebut dengan mask atau kernel ataupun window. Kalau saya menyebutnya saringan, karena cara kerjanya memang mirip saringan :).

Pemfilteran domain spasial adalah proses manipulasi kumpulan piksel dari sebuah citra untuk menghasilkan citra baru[1]. Aplikasinya untuk perbaikan kualitas citra. Read More

Mengatur Brigthness Citra menggunakan Delphi

Sebuah citra grayscale 256 warna akan tampak gelap bila seluruh komponen warnanya berada mendekati nilai 0, dan juga sebaliknya jika seluruh komponen warnya mendekati nilai 255 maka citra akan tampak lebih terang. Untuk dapat mengatur kecerahan suatu citra kita dapat menambahkan nilai intensitas piksel dengan suatu nilai konstanta. Persamaannya seperti berikut.

Dimana fi adalah nilai intensitas (warna) piksel pada citra asli, dan b adalah nilai konstanta kecerahan (brightness). Jika nilai b negatif maka intensitas piksel akan lebih gelap, sebaliknya jika nilai b positif maka intensitas citra akan semakin cerah.

Berikut ilustrasi operasi brightness pada sebuah citra.

Untuk citra true color, masing-masing komponen warna Red, Green dan Blue perlu ditambahkan dengan suatu konstanta.

Mengatur kecerahan citra dengan Delphi

 

Rancang tampilan form seperti pada gambar, atur properti komponennya seperti pada tabel.

Program yang kita buat dapat merubah level kecerahan pada citra 24 bit di setiap kanalnya (R, G, B), untuk itu kita memerlukan 3 Trackbar masing-masing untuk kanal (channel) R, G dan B. Nilai posisi trackbar kita atur nilainya mulai -255 hingga 255, tujuannya agar kita bisa mendapatkan penambahan dengan nilai negatif (pengurangan).

Pada saat pertama kali membuka file gambar kita perlu membuat dulu citra/image sementara untuk diolah kecerahannya. Selain itu khusus untuk citra 8 bit (grayscale) kita tidak bisa mengatur kecerahan warna perkanal (RGB) seperti pada citra true color (24bit),untuk itu kita perlu mengatur perubahan kecerahan citra satu kanal saja. Ini dapat diatur dengan menambahkan checkbox (Equal Track) agar TrackBar dapat aktif bersamaan (seolah hanya 1 nilai kanal yang aktif). Potongan programnya akan tampak seperti berikut.

Operasi kontrol kecerahan dilakukan dengan menambahkan tiap nilai intensitas citra dengan nilai posisi Trackbar tiap kanalnya. Kemudian dicek apakah hasil penambahan melebihi nilai maksimum intensitasnya(255), jika ya maka nilai intensitas yang baru dibuat sama dengan 255. Sebaliknya jika melebihi nilai intensitas nol (negatif) maka intensitas citra yang baru dibuat sama dengan 0. Berikut potongan programnya.

;

Berikut hasil kontrol kecerahan citra dengan berbagai nilai konstanta b yang berbeda-beda.

Download (source code)

1. Image Processing – Brightness.rar (190kb)

References

[1] Wikipedia

[2] imageprocessingindelphi.blogspot.com

[3] Sutoyo,T., Edy Mulyanto, Vincent Suhartono, Oky Dwi Nurhayati, Wijanarto, Teori Pengolahan Citra Digital, UDINUS, Penerbit Andi, 2009

Operasi Inversi (Negasi Citra) dengan Delphi

Operasi ini akan menghasilkan citra negatif seperti film (negatif) foto. Pada citra greyscale, operasi inversi mengubah piksel warna putih menjadi hitam, dan sebaliknya. Sedangkan jika kita lihat dari histogramnya maka histogram citra negatif adalah pencerminan dari histogram citra asal/asli.

Operasi inversi dilakukan dengan mengurangkan nilai intensitas piksel dari nilai intensitas piksel maksimumnya.

Jadi jika ada citra 8 bit dengan 256 level intensitas maka persamaan untuk mendapatkan citra negatif adalah

Operasi Inversi dengan Delphi

Oke kita langsung saja dengan implementasinya dengan Delphi. Seperti biasa tambahkan komponen berikut dan atur propertinya.

Program yang akan kita buat akan memproses citra dengan format 8 bit dan 24 bit. Berikut potongan programnya.

[sourcecode language=”delphi”]
procedure TForm1.Invert1Click(Sender: TObject);
var piksel : PByteArray;
brs, kol: Integer;
rgb1 : array [0..2] of Integer;
begin
for brs := 0 to Image2.Picture.Height – 1 do
begin
piksel := Image2.Picture.Bitmap.ScanLine [brs];
for kol := 0 to Image2.Picture.Width-1 do
begin
if Image2.Picture.Bitmap.PixelFormat = pf8bit then // citra 8 bit
piksel[kol] := 256 – piksel[kol];
if Image2.Picture.Bitmap.PixelFormat = pf24bit then //citra 24 bit
begin
piksel[3*kol] := 256 – piksel[3*kol];
piksel[3*kol+1] := 256 – piksel[3*kol+1];
piksel[3*kol+2] := 256 – piksel[3*kol+2];
end;
end;
Image2.Invalidate;
end;
end;
[/sourcecode]

Download (source code)

1. Image Processing – Invert.rar (178kb)

References

[1] Wikipedia

[2] imageprocessingindelphi.blogspot.com

[3] Sutoyo,T., Edy Mulyanto, Vincent Suhartono, Oky Dwi Nurhayati, Wijanarto, Teori Pengolahan Citra Digital, UDINUS, Penerbit Andi, 2009

Thresholding Citra menggunakan Delphi

Thresholding (pengambangan) artinya adalah nilai piksel pada citra yang memenuhi syarat nilai ambang yang kita tentukan dirubah kenilai tertentu yang dikehendaki. Secara matematis ditulis seperti berikut

Dengan fi (x,y) adalah citra asli (input), fo(x,y) adalah piksel citra baru (hasil/output), Tn adalah nilai ambang yang ditentukan. Nilai piksel pada (x,y) citra output akan sama dengan T1 jika nilai piksel (x,y) citra input tersebut ? T1. Nilai piksel (x,y) citra input akan sama dengan T2 jika T1 < fi(x,y)< T2, dan seterusnya…

Kita ambil contoh citra greyscale 8 bit akan dipetakan menjadi peta biner (hitam dan putih saja) dengan nilai ambang tunggal = 128 maka persamaan matematisnya

Ini berarti piksel yang nilai intensitasnya dibawah 128 akan diubah menjadi hitam (nilai intensitas = 0), sedangkan piksel yang nilai intensitasnya diatas 128 akan menjadi putih (nilai intensitas = 255).

Thresholding dengan Delphi
Contoh berikut kita akan  melakukan operasi thresholding tunggal dengan nilai ambang yang bisa diatur. Citra yang diolah adalah citra true color dan hasilnya berupa berupa citra biner. Implementasi dengan Delphi cukup mudah, mulailah dengan membentuk tampilan formnya seperti berikut. Tambahkan beberapa komponen dan atur propertinya seperti tabel.

Proses pertama adalah merubah citra true color menjadi citra greyscale , menggunakan metode nilai maksimum. Berikut potongan kode programnya.

Setelah itu kita mulai dengan proses thresholding. Nilai level grey yang didapat dibandingkan dengan nilai ambang yang ditentukan oleh posisi TrackBar1. Jika nilainya lebih kecil dari nilai ambang maka piksel akan diubah ke intensitas nol (warna putih), jika lebih besar atau sama dengan nilai ambang piksel diubah ke intensitas 255 (hitam).

Berikut potongan programnya.

Gambar berikut menunjukkan hasil thresholding dengan nilai ambang yang berbeda-beda.

Download source code

1. Image Processing – Thresholding.rar (184kb)

References

[1] Wikipedia

[2] imageprocessingindelphi.blogspot.com

[3] Sutoyo,T., Edy Mulyanto, Vincent Suhartono, Oky Dwi Nurhayati, Wijanarto, Teori Pengolahan Citra Digital, UDINUS, Penerbit Andi, 2009

Mengubah Citra Warna ke Greyscale

Proses awal yang banyak dilakukan dalam image processing adalah mengubah citra berwarna menjadi citra grey-scale. Untuk membuat citra berwarna menjadi citra dengan greyscale (abu-abu) maka nilai warna ditiap piksel citra kita manipulasi menggunakan rumus berikut:

atau                        

atau bisa gunakan yang ini

Jika dituliskan dalam bentuk potongan kode pada delphi akan tampak seperti ini

Baris 18 dan 22 menunjukkan pemakaian ketiga rumus diatas, untuk sementara dinon-aktifkan, jika ingin mengaktifkannya tinggal menghapus tanda comment “//”.

Atau jika menggunakan metode Scanline kodenya nampak seperti berikut.

Download (source code):

Image Processing – Greyscale.rar

Referensi :

[1] Wikipedia

[2] http://imageprocessingindelphi.blogspot.com/